Everything Happens For A Reason

/ 21 Oktober 2011 /
Judul post ini mungkin klise. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang benar. Tidak ada istilah 'kebetulan' di dunia ini. Yang ada hanya “pilihan dan takdir”, atau “takdir dan kesadaran”. Dengan istilah yang lebih mudah dipahami, kita hanya melangkah dalam dua jalur kesadaran, yaitu “memilih” dan “dipilih”. Tidak ada yang lebih baik, atau salah satu benar dan lain salah. Dua konsep ini kita jalani dalam kehidupan, satu diantara yang lain, selalu.

Seluruh pemahaman ini kembali ke dalam dunia perenungan saya, ketika atas ijin-Nya, sebuah kecelakaan kecil menimpa saya.

Dunia Kecil: Sebuah Meditasi

/ 17 Oktober 2011 /
Hari ini saya terbaring di tempat tidur karena tidak bisa mengangkat kepala lebih dari sepuluh menit tanpa merasa berat. Mata inginnya selalu terpejam, lutut lemas, dan perut tidak nyaman. saya rasa saya kena penyakit misterius: 'masuk angin'. Hehe.. Jadi terpaksa mengistirahatkan diri.

Ketimbang tidak melakukan sesuatu, saya putuskan untuk merenung saja. Sembari menikmati hak waktu yang digugat oleh tubuh. Lalu saya biarkan otak saya mengembara, ke aliran sungai kesadaran, yang telah lama tidak saya kunjungi.


Daun Berayun dalam Hening

/ 13 Oktober 2011 /

“Setiap pagi di Benua Afrika, seekor Kijang bangun tidur untuk mencari makan & ia tahu harus berlari lebih cepat dari Singa, karena jika tidak maka ia akan mati dimakan Singa. Dan setiap pagi pula seekor Singa bangun tidur dan harus berlari lebih cepat dari Kijang atau ia akan mati kelaparan.

Dalam hidup ini kita harus berpacu dengan waktu. Tak peduli apakah kita Singa atau Kijang yang penting kala matahari terbit, kita harus berlari cepat untuk menjemput rizqi, yang telah disediakan Allah SWT. Oleh karena itu, JANGAN MALAS...!!!

DISIPLIN adalah melakukan sesuatu dengan semangat baja, walaupun sebenarnya kita enggan 'tuk melakukannya. Kualitas inilah yang memisahkan diri kita dari kelompok orang-orang gagal. Bak kata pepatah, burung penguin akan berkelompok dengan burung penguin, demikian pula burung dara akan berkelompok dengan burung dara yang sejenis. Orang sukses pasti suka berkawan dengan orang sukses, dan sebaliknya pemalas akan berkelompok dengan pemalas.

Masalah terbesar didunia ini adalah orang paling suka menunda tugas pekerjaan yang semestinya bisa ia kerjakan hari ini. Dan hampir sebagian besar kegagalan disebabkan oleh masalah penundaan. Sebuah renungan yang pantas kita sadari bersama"


Begitu bunyi postingan rekan kerja yang saya baca kemarin pagi. Postingan ini bertujuan untuk menggugah semangat rekan-rekan dalam bekerja, agar kita tidak malas dan berusaha sebaik mungkin dalam setiap kesempatan. Dan itu baik. Namun, bertolak belakang dengan pesan moral dalam kisah di atas, saya terpaksa menunda untuk setuju sepenuhnya. Bukan, bukan berarti saya tidak setuju bahwa penundaan itu buruk. Saya sangat setuju. Yang saya tunda adalah persetujuan dengan gagasan bahwa ‘Hidup adalah arena pacu antara kita dan waktu’.

Apakah kita benar-benar berpacu dengan waktu? Ataukah kita berpacu melawan diri kita sendiri serta kebutuhan-kebutuhan superfisial?

Ada satu hal tentang waktu yang baru kusadari setelah membaca kisah di atas. Seumur hidup, masyarakat menuntut kita untuk selalu terburu-buru. Menikmati waktu  'luang' adalah ‘dosa’ dalam sebagian besar kamus kita. Kita selalu terburu-buru bangun, terburu-buru mengemudi, terburu-buru  melakukan hal lain saat kita sedang melakukan sesuatu, terburu-buru ingin weekend saat masih week days, dan terburu-buru ingin mendapatkan sesuatu saat kita belum mampu.

Kita banyak berlari, kebutuhan spiritual terabaikan, bahkan untuk makan dengan nyaman pun kita ‘tak punya waktu lagi’. Tak heran kita selalu lelah...

Menikmati Waktu Sebagaimana Adanya

Picture Apakah kita bisa mempercepat waktu? Kurasa tidak, tapi kita bisa mengabaikannya jadi waktu terasa berlalu lebih cepat. Bisakah kita mengulang waktu? Kurasa tidak, tapi kita bisa mengulang-ngulang kejadian yang telah lewat di kepala kita sementara waktu yang sedang kita alami bergerak menjadi masa lalu.

Apapun yang kita pilih diantara dua hal itu, kita salah.

Setiap saat sedetik Waktu yang baru lahir ke dunia. Setiap tarikan nafas. Setiap hembusan nafas, Waktu yang barusan lahir telah berakhir. Untuk apa mengingat-ngingat yang telah terjadi, atau mengharap-harap yang belum pasti?

Seperti yang dikatakan Einstein, Waktu adalah relatif.  Tapi kurasa bukan maksud Einstein untuk mengatakan bahwa 'Waktu adalah Uang', seperti yang diyakini oleh sebagian besar orang. Kurasa  yang ingin disampaikan oleh Einstein adalah: "Waktu sangat Berharga, ya, maka jika sesuatu layak untuk dilakukan, ia layak dilakukan dengan sebaik-baiknya".

Lupakan produktivitas, fokuslah pada satu hal dan lakukan dengan sebaik-mungkin, dengan Cinta. Kita tidak sedang berpacu melawan waktu. Kita sedang berpacu dengan harapan dan mimpi-mimpi kita, dengan kekurangan-kekurangan yang kita persepsi sendiri. Kita hidup dengan terburu-buru atau mundur melalui memori. Kemudian waktu terasa sempit, terasa menyesakkan, terasa tidak membebaskan.

Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah mereka yang tidak menikmati apa yang mereka lakukan dalam waktu yang sesaat itu.

Nikmatilah Waktu Apa Adanya.. Waktu yang mengada dalam tiap hela nafas, tiap denyut nadi... Nikmati saat demi saat, dan jadilah bahagia karenanya. Nikmati aktivitas yang kita lakukan, dan syukuri ia dengan seluruh darah dalam nadi.

Bernafaslah lebih banyak, lebih sering.
Beristirahatlah lebih tenang, tanpa banyak rencana.

Ingat, kita tidak sedang berlomba untuk mencapai garis akhir. :)

Epiphany

/ /

Picture
Terkadang hanya perlu satu kejadian untuk membuat kita sadar mengenai hidup. Sebuah epiphany. Yang menyulut keputusan dari otak yang koma sekian lama.

Sebuah urgensi bahwa kita tak boleh berdiam diri.

Dalam kasus saya, epiphany ini muncul berkali-kali tempo hari.

Ephiphany Nomor Wahid

Sudah lama saya mendambakan kesempatan untuk bisa lebih berkontribusi. Hal ini karena pekerjaan saya sebelumnya amatlah membosankan. Hanya control dan maintenance, meskipun terkadang jiwa saya hidup lalu membuat proyek-proyek berbobot. Tapi jika dibandingkan, sebagian besar waktu saya di kantor tidak efektif. Tidak berlebihan jika saya bilang, saya telah lumpuh secara mental.

Juli, datanglah panggilan dari sesepuh perusahaan, seorang yang saya hormati. Beliau meminta saya untuk mengambil bagian di Marketing Communication. Wow, sebuah tantangan baru! Saya yang sejatinya selalu mencari tantangan dan benci stagnasi, menjadi bergairah dan bersemangat. Tanpa berpikir dua kali saya mengangguk dan menyanggupi.

Tiba-tiba saja comfort zone saya bergetar, gempa. Saya didorong kesana-kemari untuk belajar. Kembali ke nol. Kembali ke gelas kosong. Penuh tekanan, tangisan dan tidur malam yang tidak berkualitas. Tetapi saya belajar banyak hal. Bukan hanya soal pekerjaan itu sendiri, tetapi tentang diri saya sendiri. Berlian itu lahir dari panas tinggi, katanya. Untuk pertama kalinya sejak beberapa lama, saya melihat diri saya sebagai pribadi yang lebih bijaksana.

Bila sebelumnya saya short-tempered, saya jadi bisa menahan diri dan tetap tersenyum. Bila sebelumnya saya cenderung introvert, saya jadi social person. Bila sebelumnya saya gampang lelah, stamina saya melesat seperti roket! Terberkatilah Markom dan atasan saya!

Epiphany Nomor Dua

Pekerjaan Markom ternyata tidak berlangsung lama. Di akhir Agustus, saya dipanggil 'pulang' ke departemen semula. 'Hanya untuk sementara, sampai akhir 2012.' kata atasan saya. Tidak masalah, senyum saya dalam hati, karena saya juga butuh liburan dari pekerjaan yang tak kunjung usai. Lagipula pekerjaan saya di departemen asal belum selesai, dan masih butuh konsentrasi saya. Setidaknya saya akan menyelesaikannya di Desember 2012. Saya bertekad untuk menyelesaikannya secepat dan sebaik mungkin.

Tapi rencana kecil saya dikagetkan oleh kejutan lainnya. Di awal September, saya diberitahu bahwa atasan saya melepas sepenuhnya saya ke bagian Marketing Communication. “Horee!” Sorak sorai saya dalam hati! Akhirnya saya bisa berkontribusi! Akhirnya saya bisa membuat diri saya berguna disini! Akhirnya ada hal sungguhan yang bisa saya lakukan!

Saya benar-benar menjadi orang Markom, bukan hanya membantu. Saya punya plan A, plan B, plan C. Rencana belajar A, B dan C. Markom tempat yang menggairahkan, penuh daya kehidupan. Jadi saya tidak sabar memulai peran baru sebagai asisten manajer Markom.
Picture
Tiba-tiba, lewat satu minggu dari itu, runtuh semua rencana-rencana saya.

“Maaf, kayaknya kamu ga jadi pindah. Bapak bilang kamu ga boleh kemana-mana. Tetap di BPI*.” kata mantan calon atasan saya. Saya terkejut. Kenapa baru bilang saat saya bertanya soal SK? Kenapa tidak sebelumnya? Apa yang membuat mereka begitu egois??

Saya marah. Meski wajah saya tenang.
Saya kecewa. Meski suara saya tak berubah.
Saya tak peduli lagi.
Lebur.
Saya tak punya rencana. Saya hampa.


“Saya butuh kamu untuk menjadi backbone perusahaan ini. Saya ingin kamu nanti bisa menjadi penerus-penerus pimpinan. Tapi saya ingin kamu berusaha untuk itu. You have to earn it!” nasihat sang Bapak. Dia menjelaskan visinya mengenai apa yang saya lakukan. Dan saya hanya mendengarkan dan berusaha memahami.

Tapi rasa kecewa membuat saya tidak bisa memahami jalan pikirnya. Tidak bisa mengangkat hati saya yang seharusnya merasa terberkati karena diplot jadi salah satu pimpinan (meski sang Bapak selalu mengatakan itu kepada setiap orang). Yang ada hanya rasa yang semakin bingung. Semakin kecewa. Apa yang harus saya lakukan? Rencana apa yang bisa saya bangun?

                  Tidak, kurasa tak bisa kulihat jembatan
                  antara aku dan bayangmu
                  tak ada jalan pintas atau pohon doyong
                  tempatku menjejak sebelum lompat.

                  Hanya jalan memutar
                  Turun ke lereng
                  lalu naik ke tebing curam

                  Diujung sana tak bisa kulihat
                  Pekat gumpal cahaya
                  Hilang sudah semua
                  Samar

                  “Di akhir perjalanan” Dinar Surtikarani
                  19 Sept 2011

Setelah mengambil cuti satu hari, alam bawah sadar saya memperbaiki dirinya sendiri. Barulah saya bisa memahami apa kata sang Bapak. Saya bisa melihat jembatannya. Visi sang Bapak, dan misi-misi untuk mewujudkannya. Sedikit demi sedikit semangat saya kembali. Tidak terlambat, saya masih bisa bergerak!

Epiphany Terakhir (Sejauh ini)

Picture
 Biar saya tuliskan saja resume dari apa yang terjadi. Mimpi yang terkucil hanyalah kabut. Mimpi yang dikebiri hanyalah angan kosong. Tidak akan ada apa-apa di ujung jalan, jika jalannya tak akan ada.

Seharian saya dan kolega saya membangun mimpi, visi, misi, rencana kerja. Untuk terhempas begitu saja. Tak akan ada perubahan, imbuh saya dalam hati. Bukan prioritas, timpal orang lain disudut sana. Lalu saya menundukkan kepala, miris. Semangat saya tak kembali.

Lalu penghayatan itu muncul ke permukaan, bahwa saya selalu punya pilihan. Saya, demi Allah, selalu punya pilihan. Teringat tulisan Leo Babauta beberapa waktu sebelumnya, “When you are forced to cut back, you can moan, or you can find joy. We chose the path that made us happiest.”

We have to chose the path that made us happiest.


*BPI = Business Process Improvement

Mengintip Jiwa

/ /
Picture
Aku mengawali tulisan ini dengan mantra:
“Tuhan, ijinkan aku menulis.


Dan beginilah, kurasakan kata-kata mengalir dalam jiwaku, menghentak-hentak untuk menampakkan dirinya.



Sudah lama aku tidak menulis. Sudah sangat lama. Dan jari-jari kaku-ku mungkin kartu identitas terbaik dari keterbengkalaian itu (yang menjadi kaku dan gemuk). Padahal aku menulis bukan karena aku mampu. Aku menulis karena aku harus, karena aku butuh. Jika lalai, aku mendapati diriku merasa sendu, tak ada arti, bimbang, dan tak nyata.


Aku Menulis, maka Aku Ada.


Bila Descartes bersabda, “Aku Berpikir, maka Aku Ada”, maka sabdaku berbeda. Pikiranku melimpah-ruah, melayang-layang bebas, datang dan pergi sesuka hati. Bagaimana aku tahu aku Ada jika Pikiranku samar-samar dan esoterik? Maka mestilah ada Kata untuk membuatnya nyata.


Pikiranku harus dibuat nyata, jika aku ingin mengakui bahwa ia ada. Maka jari-jariku bekerja untuk membuat pikiran paling bodoh menjadi nyata. Lalu Aku terlahir kembali di dunia. Lewat mata yang baru lagi.


(Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengijinkan hamba menulis. Meski singkat, hamba kini telah Nyata)

Sang Pemaaf

/ /
Alkisah, seorang pemuda yang ibadahnya biasa-biasa saja, didaulat untuk masuk surga hanya karena tak pernah menyimpan dendam. Jika ada yang berbuat salah padanya, ia segera memaafkan. Indah nian jika setiap orang di dunia mampu meneladani si pemuda, dan menjadi golongan Sang Pemaaf.

Subhanallah. Menurut saya, Pemaaf adalah sifat Allah yang paling sulit untuk diteladani. Berapa keraspun saya berkata berulang-ulang “saya maafkan, saya maafkan”, dengan teknik-teknik self-hypnosis yang saya pelajari, atau dengan mencoba berempati, emosi negatif itu masih saja berkecamuk dalam hati saya.

Saya merasa, memaafkan adalah teknik hidup yang perlu disiplin berpuluh tahun hingga seseorang bisa menguasainya. Seperti Rasulullah, yang hanya berkeringat dahinya saat marah.

Topik inilah yang saya bawa ke Kajian Senin Kamis perusahaan terkeren sejagad raya, Shafira Corporation, kamis tadi. Saat itu keadaan saya persis, sedang mengalami gejolak emosi, karena tersentil oleh omongan orang lain (yang saya yakin, bahwa ia tidak bermaksud buruk).

Kismis sore itu dihadiri oleh cukup banyak jamaah, yang ternyata memiliki kesulitan yang mirip-mirip dengan saya. Dan akhirnya, diskusi yang semestinya hanya 7 menit, menjadi molor lebih dari 10 menit. Tapi tentu, dengan kesimpulan yang luar biasa mencerahkan.

Berikut saya paparkan, Sang Pemaaf...

Sang Pemaaf

Picture
Kita semua tahu, dan acap kali membaca, bahwa saat kita menyimpan dendam justru kitalah yang dirugikan. Energi kita terbuang, waktu kita tersia-sia, dan yang paling penting, orang yang kita benci tidak merasakan apapun. Kita pun menjadi lelah. Jadi, tidak ada manfaat apapun saat kita marah. Satu.

Ketika seseorang merasa marah, fokusnya adalah pada orang yang menyakiti atau pada perbuatannya. Rekaman kejadian itu berulang terus di kepala seperti seseorang menekan tombol reply. Indefinitely. Kompor emosi kita terus dibakar, dibumbui terus dalam setiap sekuen rekamannya.

Maka, marilah kita contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saat beliau marah: mengalihkan fokus dari Dia/Mereka dan Perbuatannya, kepada Saya dan Tuhan. Saat Rasulullah marah, beliau malah berdoa kepada Allah, untuk mengampuni orang itu dan mengampuni dirinya sendiri. Beliau menjadi lebih sibuk berdoa ketimbang memikirkan pendzoliman orang. Alihkan fokusnya, ke Kita dan Tuhan. Dua.



"Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, maka di hari kiamat Allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan." - Al-Hadist

Saat Allah menciptakan manusia, Ia menitipkan Kasih (Rahman) dan Sayang (Rohiim) pada manusia, melalui hati mereka. Meski tak akan sempurna, tugas kita adalah memelihara hati yang dititipkan Allah. Bangunlah hati yang penuh maaf, hingga meski sebaskom dendam tumpah kedalamnya, tak akan berpengaruh pada samudera maaf kita. Allah telah Mengasihi kita, maka kasihilah orang lain. Tiga.


“… dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22)

Picture
http://niltimbadia.blogspot.com/2011/01/breathe-in-breathe-out.html

Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Asy-Syura ayat 43 :

“Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan sesungguhnya
[perbuatan] yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”

Waktu

/ /
Picture
http://ejomlexus.files.wordpress.com

Seandainya saja saya dapat mendengar apa yang dikatakan Waktu, mungkin saya akan mendengar teriakan-teriakan marah darinya, “Hei Dinar, bangunlah! Hiduplah! Menjadilah!

WAKTU tak pernah berhenti untuk apapun, untuk siapapun. Meski saya melupakannya, atau terlupa darinya. Waktu terus menyisip sedikit-sedikit, bak gelas pasir yang kita lihat di film the Sands of Time.

Waktu dan Kita

Seringkali kita lupa, bahwa waktu sesungguhnya sangat terbatas. Apa yang telah terlepas, tak akan pernah bisa ditangkap kembali. Yang sudah berlalu, tetap abadi di masa lalu. Banyak orang yang sia-sia mencari cara untuk kembali ke masa lalu, hidup di masa lalu, hingga pada akhirnya mereka berakhir di rumah sakit jiwa atau paling banter di rumah-rumah pemulihan.

Pernahkah teman membaca novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami? Jika ya, mungkin teman sepakat, bahwa novel ini -selain menggambarkan gairah vulgar anak-anak Tokyo jaman revolusi- menggambarkan bagaimana hubungan Manusia dan Waktu tidak pernah setara. Waktu selalu ada di samping kita, tapi tidak pernah berjalan sejajar, ia berjalan bersama kita, tetapi selalu satu langkah di depan.


Picture
http://3.bp.blogspot.com
Saya membayangkan Waktu sebagai saudara kembar yang sedang melakukan perjalanan. Waktu sama persis dengan kita, hanya saja ia lebih superior. Sesekali kita bertanya arah padanya, tapi dia hanya akan mengibaskan bahunya dan berkata, “terserahmu saja.”. Saat kita minta pendapatnya, dia hanya berpikir-pikir lalu berkata, “mungkin saja.”.

Seberapa cepat langkah kita, kita tak bisa mendahuluinya. Jika kita ragu dan memutuskan untuk berhenti, ia tak menengok ke belakang pun tidak memelankan langkah. Waktu tak pernah berhenti, maka kita pun tergesa-gesa mengejarnya. Semakin sering kita berhenti, semakin sering pula kita bersimbah peluh berusaha mengimbangi sang Waktu.


Saudara kembar yang misterius. Mungkin sesekali kita harus mengajaknya minum-minum sampai ia mabuk, dan bersedia melantur tentang apa yang ia lihat di depan sana. Tapi, mungkin apa yang dia katakan benar-benar omong kosong yang tak perlu didengarkan.

Apa gunanya mengetahui “hari ini cuaca cerah, dan kamu akan mendapatkan sebuah keberuntungan beberapa langkah ke depan.”, lalu kita menjadi waspada hanya pada jalan di depan sana, dan melewatkan pemandangan surealis di sekitar kita?

Kurasa bukan kata-kata macam itu yang kita ingin dengar...

Kurasa yang kita butuhkan adalah saudara kembar yang mampu menampar wajah kita saat kita ingin berhenti. Ia berjalan di depan, agar kita selalu termotivasi. Ia tak memelankan langkah agar kita paham pentingnya perjalanan.

Sesekali, mungkin kita juga harus berhenti berbicara dan benar-benar mendengarkan, karena siapatahu diantara langkahnya yang tegap, ia berteriak memotivasi “Bangun! Bergerak! Ayo, perjalanan masih panjang!”.



Ah, saudara kembar yang superior, selamanya kami berhutang padamu.


Cara Tetap Waras di Tempat Kerja

/ /
Whatssuup! It's been a long while, eh?
I've been busy with my job, and some other things that requires my attention, so it's hard to put my thought on this blog. But here I am now, and I'm so ever thankful for my reses, because it left me with this great idea of how to Keep Sane In Your Workplace. Hehe, read on...



Cara Tetap Waras di Tempat Kerja

Oke, kecuali kita seorang pengangguran kaya raya, kita pasti pernah merasa overwhelmed dengan pekerjaan yang datang berduyun-duyun dari seantero mata angin. Kalau Anda karyawan seperti saya, skema penumpukan (hehe) berlangsung sebagai berikut: Ketika proyek A belum selesai, muncul proyek B. Ketika proyek A hampir selesai, dan proyek B dipersiapkan, diundanglah meeting untuk proyek C, daaan seterusnya.

Meskipun kita mungkin tidak mau mengakui bahwa hal itu adalah tekanan, (“tak ada tekanan, yang ada tantangan!” katanya) kita harus menyadari bahwa otak dan fisik kita dituntut untuk bekerja secara maksimal dan konstan. Hati-hati, karena itu bisa berbalik buruk untuk kita. Salah-salah, bukannya sukses memberi hasil, kita malah sukses masuk rumah sakit karena tipus atau frustasi.

Sebetulnya hanya ada 2 tips pamungkas untuk Tetap Waras Di Tempat Kerja, yaitu:1) Miliki treshold terhadap stress yang sangat tinggi, dan 2) Mengelola pekerjaan agar tidak menumpuk. Tips kedua inilah yang akan saya bahas hari ini.
Prioritas

Iya sih, tampaknya memang klise. Tapi percayalah, 'membuat prioritas' itu lebih mudah diucapkan 1000 kali ketimbang dilakukan secara menyeluruh dan konsisten. Banyak dari kita – termasuk saya dulu, dulu yah – yang menetapkan prioritas di awal hari, lalu kesulitan memelihara prioritas itu di siang hari, dan gagal menyelesaikan prioritas di sore hari. Hal ini tidak hanya meninggalkan rasa pahit di lidah (karena kena cipratan ludah si bos), tapi juga rasa tidak puas sebagai pribadi.

Sudah terlalu banyak korban dari kejahatan kerah putih seperti ini. Terlalu banyak...

Maka, mari kita sama-sama saling meningatkan bagaimana cara untuk menepati prioritas kita. Ingat, prioritas itu janji pada diri sendiri, dan janji harus ditepati. Kalau gagal, harusnya kita puasa kifayat 3 hari berturut-turut, hehe~

Picture
www.rainmakerlawyer.com

Kuadran Prioritas adalah konsep yang sangat brilian, tapi biasanya orang bingung gimana harus memilah-milih pekerjaannya antara penting-genting dan tidak penting – tidak genting, or somewhere in between. Mengkotak-kotakan pekerjaan seperti ini pasti membingungkan, setidaknya untuk saya. Bagaimana saya tahu itu kuadran 1 dan bukan 2? Sepertinya mirip-mirip, hehe..

Jadi apa yang saya lakukan? Saya membuat list pekerjaan yang harus dilakukan pada hari itu, dan kemudian melingkari pekerjaan yang:


1. Berdampak pada departemen lain/pekerjaan orang lain;
2. Deadline-nya dekat; dan
3. Tidak ada ruang untuk negosiasi deadline.

Ingat, itu 'DAN' yah, bukan 'ATAU'. Saya tentukan prioritasnya berdasarkan 3 hal tersebut.

Oke, sekarang, kita sudah punya prioritas. Lalu?


Fokus adalah langkah selanjutnya. Fokuslah hanya pada TIGA (3) pekerjaan yang paling tinggi. Dan kerjakan TIGA perkerjaan itu, berturut-turut. Tentu dengan istirahat sejenak diantaranya. Jika Anda mendapatkan tugas baru saat sedang mengerjakan pekerjaan itu, tulis saja di kertas atau “post-it”, dan tempelkan di dahi, lalu kembali kerjakan tiga hal yang tadi.

Hehe, dahi hanya perumpamaan, artinya langsung lupakan.

Bagaimana jika ada meeting dadakan? Tanyakan dulu apakah kehadiran Anda tidak bisa digantikan dalam meeting tersebut? Jika jawabannya ya, ya mau gimana lagi.. hehe... Tapiii.. setelah kembali dari meeting, mau tidak mau, SELESAIKAN TIGA PRIORITAS itu!

Intinya, objective Anda di hari itu adalah mengerjakan Tiga Prioritas. Saat Anda berhasil menyelesaikannya, Anda baru boleh naik level.

Nah, seumpamanya Anda sudah selesai mengerjakan prioritas itu dan selesai di sore hari, apa yang mesti Anda lakukan? Well, rayakan sejenak dengan beristirahat dan minum kopi, mungkin chatting bentar ma temen, lalu kerjakan prioritas selanjutnya. Itu bonus level, namanya. Hehehe...

Apakah cukup sampai disitu? Tentu tidak.

Berani Berkata Tidak adalah faktor penentu keberhasilan usaha Anda seharian. Bayangkan jika Anda terus-terusan menempel “post-it” di dahi Anda... Tidak hanya pandangan Anda akan teralihkan (hehe), tapi secara psikologis Anda jadi lebih tertekan karena memikirkan pekerjaan selanjutnya.

Jurus pamungkas untuk mengelola pekerjaan adalah dengan Berani Berkata Tidak. Mungkin tidak blak-blakan, “Ga mayuu!” seperti anak Te-Ka. Akan tetapi Berkata Tidak 'ala Kerah Putih. Hehe, seperti apakah?


Picture
Andaikan Anda sedang asik mengerjakan pekerjaan A. Lalu bos Anda muncul di hadapan Anda, lalu bilang, “Cuy, saya butuh analisa pasar dari tahun 2008, spek-nya bla bla bla...”

Daripada keblinger mikir caranya, tanyakan dulu “Kapan deadline-nya, Bos?”

Kalau si Bos bilang, “Sore ini ya.”. Anda jangan keburu asma. Tapi katakan, “Saya sedang mengerjakan pekerjaan A, B, dan C. Apa bisa analisanya saya kerjakan besok pagi? Atau apakah pekerjaan B dan C bisa saya alihkan besok?” Lalu berikan penjelasan singkat untuk tiap pekerjaan. (Ingat, penjelasan loh, bukan keluhan.)

Well, karena bos adalah orang yang memberi pekerjaan pada Anda, sudah jadi kewajiban moralnya untuk membantu Anda untuk bisa menyelesaikan pekerjaan. Jadi, most likely dia bakal memberikan keringanan atau keputusan menggeser prioritas.

Tapi, jika Anda cukup sial untuk mendapatkan bos tipe Y, maka Anda yang harus mengambil keputusan bagi diri Anda sendiri, dan siap menanggung konsekuensinya. Hanya, siapkan saja alasan yang masuk akal untuk orang-orang terkait. Hehe...



Oke deh, sekian saja. Semoga bermanfaat! :D


(untuk penjelasan lebih baik soal Kuadran Prioritas, lihat disini. Untuk penjelasan yang lebih sempurna soal Fokus, lihat disini.)

Manusia Pembelajar

/ /
Ladies and Gentlements, saya bukan orang yang sangat murah hati atau perhatian, bukan juga orang yang sangat pelit atau keras hati.

Saya rasa saya orang yang biasa-biasa saja, cukup. Cukup murah hati, cukup perhatian, cukup pelit, cukup keras hati. Hehehhehe.... Amit-amit deh~

Meski saya ini serba 'berkecukupan', saya rasa saya punya kelebihan dalam bidang Personal Development. Jika saya salah, saya mengakuinya, lalu belajar dari kesalahan itu. Saat saya jatuh, saya belajar untuk bangkit, dan menghindari kejatuhan yang sama. Saat saya menyakiti orang lain, saya marah (lho), terus minta maaf, lalu bertekad untuk tidak mengulangi.

Dari setiap poin-poin itu, saya selalu belajar. Terus menerus. Dari setiap kesalahan, kejatuhan, pendzoliman.


Picture
Manusia Pembelajar
Saya rasa itulah sikap utama yang paling penting untuk dimiliki manusia pembelajar. Kita tidak harus menjadi sempurna sekarang. Karena 'kesempurnaan' itu diraih dengan memperbaiki banyak kekurangan. Bagaimana kita bisa menyempurnakan, saat kita terlalu berhati-hati dalam seluruh aspek hidup? Terlalu berhati-hati sampai-sampai kita tidak mengenal siapa kita sebenarnya?

Berani kotor itu baik, katanya. Berani berbuat salah, berani menaggung kesalahan, berani belajar, berani bertumbuh. Berani menjadi diri sendiri, dan berani memperbaiki diri. Itulah sikap seorang pemenang.

Oh belum, saya belum menjadi pemenang, tapi saya yakin proses pembelajaran saya akan membawa saya kesana, eventually. :)

Saat Kita Terlalu Berhati-Hati

Saat kita terlalu berhati-hati dalam menjalani hidup, terlalu berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain saat bicara, mengambil jalur cepat di tol, atau berhati-hati untuk tidak berbelanja, saya khawatir kita akan menjadi golongan yang biasa-biasa saja. Kita tidak akan banyak bicara (lalu bagaimana kita bisa menjadi komunikator handal?), kita akan selalu mengambil jalur lambat (lalu bagaimana kemampuan mengemudi kita bertambah?), kita akan kekurangan gizi dan tampak outdated (lalu bagaimana orang akan menghargai kita jika kita tidak menghargai diri sendiri?)

Setiap kita perlu, wajib, harus melakukan kesalahan, untuk mengetahui bahwa itu salah. Post ini bisa jadi salah bagi saya beberapa waktu kedepan, tapi saya tidak akan menyesal. Saya perlu membuat post yang iseng atau tidak berguna, supaya saya belajar mengenai dampak hal yang iseng dan tidak berguna itu. Kalau kita sudah belajar mengenai dampaknya, kita akan memperbaiki cara kita untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

Itulah caranya Hidup. Itulah seninya Hidup.

Penting untuk diingat, “Menjadi-Tidak-Terlalu-Berhati-Hati” bukan sama dengan “Menyengaja-Untuk-Menjadi-Egosentrik”. Tidak, tidak begitu.

Sampai batas-batas tertentu, menjadi egois itu bisa diterima. Tetapi bila lewat dari itu, artinya kita sudah kelewatan. (Ya namanya juga 'lewat' ya pasti kelewatan). Segeralah beristighfar, dan memperbaiki diri.


Lalu Batasan Egois yang Bisa Diterima itu yang Seperti Apa?

Kalau kata pelajaran PPKN jaman SD dulu, egois yang bisa diterima adalah egois yang 'tidak merugikan hak orang lain'. Tentu saja, klau kita mewawancara social circle kita, pasti daftar hak-nya tak hingga, dan justru kontraproduktif. Cara paling praktis untuk mempelajarinya adalah dengan bertindak sesuai judgment kita, lalu minta/pahami tanggapan orang lain di sekitar kita, 'Apakah perbuatan/omongan saya kelewatan?' Jika ya, segera meminta-maaf, lalu jangan ulangi lagi.

Menjadi Manusia Pembelajar itu butuh keberanian dan energi yang besar. Berani untuk bertindak, berani untuk berbuat salah, berani meminta maaf. Tapi bukankah lebih baik menjadi Manusia Pembelajar ketimbang Manusia Biasa-Biasa Saja?

Manusia Pembelajar Bukan Menciptakan Kesmpurnaan, tapi Menciptakan Peluang

Picture
The Thinker: Pembelajar atau Filosof?
Seperti yang saya lemparkan pada paragraf-paragraf sebelumnya, tugas kita sebagai manusia pembelajar bukanlah untuk menciptakan kesempurnaan. Jika kamu berpikir seperti ini, niscaya kamu bakal terkekan, merasa sangat overwhelmed, dan letih karena merasa harus menjaga 'idealisme' serupa. Percayalah, I've been there, dan rasanya tidak nyaman.

Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang 'terdistorsi' dari citra keilahian. Ia Maha Penyabar, manusia hanya Sabar. Ia Maha Pengampun, manusia hanya bisa memaafkan. Maka saya rasa Tuhan tidak menghendaki kesempurnaan bagi manusia. Jika tidak, pastilah Ia menciptakan kita sama dengan malaikat. Tiba-tiba terlahir sempurna.

Jangan salah, saya tidak bilang bahwa kita tidak perlu mengejar kesempurnaan. Justru sempurna-nya manusia itu karena ia tahu bahwa ia tidak sempurna, dan ia berusaha untuk menjadi lebih baik. Jika seseorang merasa ia sudah sempurna, maka selesai! Tak ada pembelajaran lagi.

Tugas kita sebagai Manusia Pembelajar adalah untuk secara konsisten Menciptakan Peluang untuk menjadi lebih baik (sempurna). Seorang mahasiswa tidak akan lulus dengan gemilang, dalam artian memahami mata-kuliah yang dipelajari, jika ia melewatkan kesempatan untuk berdiskusi, mensimulasi, dan menguji-coba ilmu yang dia dapat.

Mahasiswa harus menciptakan peluang untuk bisa belajar dengan lebih lengkap, lebih mendalam, lebih baik, dengan berkumpul dan berdiskusi, berorganisasi, berdebat, membaca teks, dan sebagainya.

Begitu juga kita. Kita harus mencari peluang. Berani untuk mengambil kesempatan, dan berani untuk menerima konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Tidak apa-apa bila pilihan itu salah, karena dari situlah kita benar-benar belajar. Setiap kesalahan yang kita ambil adalah peluang untuk memperbaiki diri. Ambil positif-nya saja, dan terus melangkah. Jangan pernah takut salah.


Labrak!

Terimakasih kepada Sir Andrias Harefa, yang telah menciptakan istilah Manusia Pembelajar. :) GBU.

Mengenai Kebahagiaan

/ /
Post ini adalah repost dari Facebook, yang saya rasa penting untuk dibagikan kepada sebanyak mungkin orang.

Banyak orang berbicara, seakan-akan Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus dicari, sesuatu yang harus dipertikaikan, sesuatu yang mengada di luar eksistensi Diri.

Tak pernah kah mereka merasa, bahwa kebahagiaan itu lebih dekat dari urat leher mereka sendiri?

Kebahagiaan itu ada dalam rasa Syukur.
Bukan pada apa yang tidak kita miliki atau materi yang kita angankan.

Kita punya pilihan untuk menjadi Bahagia, DETIK INI JUGA.
Terlepas dari kondisi dan situasi apapun yang ada.

Kebahagiaan itu KITA!
Kebahagiaan itu ADA!

Masalahnya maukah kita mengakuinya?

Hambatan bagi kita untuk bahagia adalah rasa ke-Aku-an, yang rata dimiliki oleh setiap orang.
Kita meng-Aku-i rasa sakit, rasa sedih, rasa benci, rasa galau yang muncul dalam hati sebagai definisi keadaan kita. Dan ketika rasa sakit, sedih, benci, galau itu diakibatkan oleh sesuatu yang orang lain lakukan, kita meng-Aku-i rasa itu sebagai justifikasi atas Victimhood (Saya-Korban).

Perasaan menjadi Korban inilah yang kemudian kita peluk erat-erat, semata-mata agar tidak kehilangan ingatan mengenai seseorang atau sesuatu yang telah menyakiti atau menyulitkan kita. Karena 'kehilangan ingatan' berarti 'memaafkan', dan kebanyakan dari kita tidak rela melakukannya.
Kita me-Aku-kan perasaan itu untuk menghukum seseorang atau sesuatu secara mental. Kenyataannya, dengan menghukum sesuatu atau seseorang justru kita yang terpenjara dalam lingkaran ketidak-bahagiaan.

Aneh kan?
Kita bekerja keras untuk memupuk perasaan buruk yang menghalangi kita dari merasa bahagia.

Picture Marilah kita Berbahagia!

BAHAGIA detik ini JUGA, dengan Bersyukur
Atas iman kita, atas pasangan kita, atas teman kita, atas pekerjaan kita
Atas sinar matahari, atas hujan, atas lembah, atas pohon
ATAS APAPUN JUGA

Kebahagiaan tidak bisa dibeli
Kebahagiaan tidak bisa diraih
Karena dia SUDAH ADA
Pilihlah untuk BAHAGIA, Kawan

KEBAHAGIAAN itu KAMU

Problem Solving 101: Review

/ /
Setiap kita pasti mengalami pilihan-pilihan sulit, atau pilihan-pilihan yang-tak-begitu-sulit; hal-hal yang ingin diselesaikan, atau masalah akut yang tak pernah mampu dicabut sampai ke akar.

Indikasi adanya permasalahan tersebut adalah jika seseorang bertanya-tanya (kadang sambil termangu): "Apa yang harus aku lakukan?" atau "Mana yang sebaiknya aku pilih?"

Nah, seandainya di otakmu sedang berkecamuk pertanyaan yang sama, maka kamu pasti sama gembiranya dengan saya setelah menemukan-membaca-dan mengaplikasikan saran-saran dalam buku luar biasa ini:

*:--☆--:*:--☆:*:--☆--:*:--☆--: jreng jreng! *ceritanya lagu*
Picture
Yap, the one and only Problem Solving 101

5 kata yang muncul saat saya selesai membaca buku ini adalah  "Kenapa baru gw baca sekarang?!". LOL (Di 2009 sudah meng-azzamkan diri untuk beli, tapi karena satu dan lain hal tertunda)

Buku ini diterbitkan di Indonesia tahun 2009 akhir, oleh penerbit PublishingONE. Cover versi indonesia-nya hanya mengganti subtitle-nya menjadi: Buku Simple Untuk Orang-Orang Cerdas. Langkah yang cerdas, karena saya pasti males beli buku berjudul "101 Pemecahan Masalah" ( ̄~ ̄;)

Saya suka banget sama cover-nya yang kaya dengan tekstur dan warna. Belum lagi ilustrasinya yang keren!

Penulisnya, Ken Watanabe, adalah alumni McKinsey -bagi yang belum tahu McKinsey itu apa, klik disini- yang sengaja keluar dari Firma keren itu hanya untuk membuat buku ini. Luar biasa komitmen-nya ya? Nah, karena beliau adalah alumni McKinsey, maka buku ini pun dirancang menggunakan metode yang sama dengan yang digunakan para McKinseyite dalam pengembaraan mereka!

Artinya: Hampir semua perusahaan besar dunia mengaplikasikan teknik-teknik dalam buku ini untuk memecahkan masalah mereka dan merancang misi mereka. Ini luar biasa! Artinya lagi, dengan mengaplikasikan teknik pemecahan masalah ini kita juga sekelas dengan para rockstar perusahaan multinasional. How cool is that?

Oke, berlanjut ke isinya. Karena buku ini ditujukan untuk anak-anak sekolah di Jepang (keren dah), jadi Ken memulainya dengan menjelaskan perbedaan antara Anak-Anak Pemecah Masalah (yang kita tuju) dengan Nona Pengeluh, Tuan Pengkritik, Nona Pemimpi, dan Tuan Reaksi Cepat (keempatnya yang kita hindari).

Anak-anak Pemecah Masalah adalah mereka yang "memikirkan akar penyebab masalah mereka, menyusun rencana yang efektif sebelum bertindak, dan bersedia menyusun ulang rencana mereka ketika muncul berbagai tantangan baru."

Nah, dalam pembukaan buku ini, kita diajak untuk mengambil sikap sebagai Anak-anak Pemecah Masalah, dengan menggali akar permasalahan, membuat rencana yang berlandasan kuat, meng-eksekusi rencana, dan menjadi fleksibel.

Di bab berikutnya, Ken mengajak kita, Anak-anak Pemecah Masalah, untuk mengikuti bagaimana tiga Anak Pemecah Masalah memecahkan masalah mereka: Jamur Mania, John Gurita, dan Kiwi. Perjalanan mereka diwarnai oleh ilustrasi menarik dan kata-kata yang amat sangat mudah dicerna.

Untuk menjelaskan lebih dalam apa itu problem solving dan tools apa yang mereka gunakan untuk memecahkan masalah, dibawah ini mind mapping yang saya buat:

Picture
Jadi, Problem Solving itu didasari oleh 4 hal:
  1. Menganalisa situasi
  2. Mencari akar permasalahan sejati
  3. Merancang solusi yang mungkin
  4. Mengeksekusi rencana solusi

Semua proses pemecahan masalah pada intinya mengikuti empat langkah tersebut, dan harus bergerak secara simultan. Artinya, tanpa salah satu berjalan, masalah tidak akan terpecahkan.

Tools yang digunakan pun sederhana, berupa Pohon Logika, Strength + Weakness diagram, FlowchartMatrix Prioritas, serta Survey dan Wawancara. Masing-masing tools dapat diterapkan pada satu atau lebih langkah Pemecahan Masalah.

Spoiler-nya cukup sampai disini saja yaa. Selebihnya, tolong beli dan baca buku ini. InsyaAllah, dijamin ga akan menyesal. Ini buku yang paling oke untuk pemecahan masalah harian.
Mulai dari menetapkan jodoh, menentukan arah karir, sampai lokasi liburan berikutnya. Hehehe...

Tapi, jika review di atas masih belum cukup, klik disini untuk langsung mengunjungi website Ken Watanabe.
Selamat menjadi Anak-Anak Pemecah Masalah!

\(^-^)/

Why Do You Love Me?

/ /
Seorang teman bertanya, apa maksud dari pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?” yang dilontarkan pacar/teman dekat?


Situasi seperti ini pasti pernah dialami oleh setiap orang, perempuan maupun laki-laki. Meski, secara gender, biasanya perempuan yang dikaitkan dengan pertanyaan tersebut, yang membuat pacarnya kelimpungan karena tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. (pengalaman pribadi, hehe)

Nah, untuk menjelaskan maksud dari pertanyaan tersebut, mari kita intip dulu sedikit ilmu komunikasi.

Dalam dunia komunikasi, dikenal dua aspek pesan yaitu content dan context. Content, atau Isi, adalah bahasa pesan tersebut, dalam hal ini adalah pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?”. Kalau kita mengacu pada aspek Isi, pertanyaan ini benar-benar bertanya alasan rasa suka, dan jawaban yang benar -setelah berpikir lama- adalah dengan mendeskripsikan alasan kenapa kamu mau berhubungan dengan dia, “Ya karena kamu baik,” “karena kamu cantik”, “karena kamu pintar.

Tapi hampir bisa dipastikan feedback berikutnya adalah, “karena itu doang?” dan kamu pun makin bingung...
Kenapa jawaban itu tidak memuaskan? karena memang bukan itu tujuan pertanyaannya.

Dalam setiap pesan, terkandung juga makna kontekstual (context), dalam hal ini adalah Hubungan. Jika kita cermat mengamati situasi yang muncul sebelum pertanyaan itu (berdua, habis nonton bioskop), serta bagaimana bahasa tubuh yang bertanya (manyun manja sambil menyeruput coklat panas), kita jadi tahu, bahwa yang dimaksud dari pertanyaan “Kenapa sih kamu suka aku?” tidak lain dan tidak bukan adalah:

Katakan dong bahwa kamu suka aku..”
:D


Selamat berkomunikasi!

Overwhelming Anxiety

/ /
Picture
Anxiety and Frustation - Dinar Karani
Saya adalah mahluk perencana. I just love and can't live without proper planning. Akhir-akhir ini saya merencanakan untuk menikah, dan itu mengonsumsi semua sumberdaya yang saya miliki, dan sumberdaya utama yang saya miliki adalah energi. Saya merencanakan segalanya, mulai dari proses lamaran sampai nanti ketika membeli rumah dan mobil pertama. Orang bilang, rencana saya sudah terlalu jauh. Tapi saya tidak mampu (atau mungkin tidak mau) untuk tidak memikirkannya.

Dan akhirnya saya frustasi sendiri karena banyak hal yang perlu saya tackle agar "rencana sempurna" saya bisa terlaksana.

Nah, yesterday morning, after a few drops of tears, I think that -maybe- the best way to stop worrying is to let go my power over the subject, by stop caring at all.

Kupikir, bukankah kita menjadi resah dan gundah karena kita peduli mengenai apa yang akan terjadi? Apakah itu berarti mengambil tindakan ekstrim -menjadi tidak peduli – adalah tindakan yang bijak untuk dilakukan?

Atau itu hanya self-defense mechanism agar saya tidak terus-terusan frustasi atau jatuh ke depresi? Jadi daripada depresi, lebih baik bilang “Ya sudah, I don't care, do whatever you want to do, let the end justify the means, and wake me up when it's all over.”

Is that the best way to overcome the fear? The tension? The overwhelming anxiety?


Untuk seorang perencana seperti saya, somehow, It doesn't feels right..


Do I really need to stop caring to stop worrying?
Does letting it flow means I don't care anymore?
Does that means I don't have to have a plan?


Ternyata jawabannya: Tidak.

Let it flow doesn't mean you let go of the plan and just go wherever the stream immerses you. Bukan demikian. "Let it Flow" adalah situasi setelah kita berusaha dan merencanakan dengan baik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, kepada Tuhan dengan berbesar hati.

Tuhan adalah sang Maha Rencana. Apa sih kesempurnaan rencana kita dibandingkan rencana Tuhan? Jangan sombong dan merasa rencana kita adalah rencana terbaik, karena Tuhan lebih tahu ketimbang kita.

Begitu kita menyadari, bahwa ada rencana yang lebih baik daripada rencana kita, kita menjadi lebih tenang dalam menjalani langkah-langkah menuju tujuan/manifestasi rencana kita. Kita menjadi Tawakal. Bukan berarti tidak peduli, karena kita memang tetap harus peduli. Hanya menjadi lebih tenang dengan pemikiran "I've done my part in the planning and the actions, now it is depend on Your decision, I surrender to Your Great Plan."

Dari sini saya jadi sadar, bahwa, konsep Sabar, dan Syukur, ternyata tidak bisa dipisahkan dengan konsep Tawakal. Oh, saya sudah mencoba untuk mempraktekkan konsep Sabar dan Syukur, tetapi tetap merasa resah dan gundah. Ternyata karena saya lupa kunci yang mengikat Sabar dan Syukur dalam satu kesatuan ini.

Coba lihat diagram dibawah ini.
Picture
Segitiga Emas Goal Setting - Dinar Indra
Hanya Sabar, tanpa Syukur, maka kita benar-benar tenggelam dalam keadaan, tanpa Goal Setting sama sekali. Hanya Syukur saja berarti kita hanya ingin maju terus dan tidak bisa menerima kegagalan. Hanya Sabar dan Syukur tanpa Tawakal, kamu akan mengalami apa yang saya alami di awal tulisan ini.

Bersama-sama, Sabar, Syukur dan Tawakal membentuk Segitiga Emas, yang jika kita pergunakan dengan baik dan selalu kita ingat dalam kehidupan, saya yakin kita bisa menjadi orang yang Well-Planned, tapi tetap bisa menikmati perjalanannya; Well-Planned, tapi Santai; Well-Planned sekaligus Go With the Flow.



Semoga Tuhan memberikan kita keberlimpahan ilmu dan kelapangan jiwa, untuk memahami bahwa Rencana-Nya selalu lebih baik.

Anak Pertama: Why Is It A Priviledge And Simultaniously A Pressure?

/ /
Tulisan kali ini adalah momento pembicaraan saya dengan seorang teman melalui BBM. Ceritanya, saat itu saya baru aja selesai dengerin curhat orang tua tentang pernikahan impian saya. Bukan pernikahan yang saya impikan loh, tapi pernikahan impian anak mereka. ( ´∀`)

Ide mereka tentang pernikahan yang bermakna-spesial-luarbiasa, (yang saya tangkap) adalah sebuah pernikahan yang grandeur, yang selain dihadiri oleh keluarga dan teman, juga dipenuhi oleh rekan kerja mereka (yang saya ga kenal), undangan VIP dan VVIP (yang saya ga kenal juga), dan mencerminkan pernikahan impian mereka yang ga kesampaian saat mereka nikah dulu. (^__^")

Saya tak berlama-lama menyesali nasib, karena tak lama status seorang teman mencuri perhatian saya: "Anak percobaan".

Dibawah ini saya copas pembicaraan kami, dengan perubahan seperlunya untuk menghindari identifikasi (hehe)


Saya       :               Hah, kenapa anak percobaan?

Dia          :               Biasalah.. Biasanya anak pertama kan jadi anak percobaan...

Saya       :               ... Aku juga ngerasa gitu.

Dia          :               Iya kan...?

                                It's a privilege and simultaniously a pressure


Pembicaraan singkat ini bener-bener menekan tombol mikir saya. Iya ya, saya anak pertama. Apakah perilaku orang tua saya ini ada hubungannya dengan saya yang menjadi anak pertama?
Lalu pertanyaannya berevolusi menjadi: Kenapa anak pertama adalah berkah sekaligus beban?

Setelah melepaskan ego dan menempatkan diri saya dalam fresh point of view (fenomenologis banget), saya mencoba memosisikan diri saya pada sudut pandang orang tua. Dan inilah yang saya dapatkan:


Picture
Anak pertama adalah berkah, karena kita lah buah cinta orang tua yang kehadirannya dinanti-nanti, yang muncul saat mereka masih muda dan penuh gairah, naif sekaligus penuh rencana.  Anak pertama itu spesial.

Ketika kita lahir, mereka beradu-pandang lalu membusungkan dada dengan kesombongan lembut ala orang tua: "Inilah anakku." "Dialah pembawa pedang dan perisai harapan kami." Bersama itu, lahir pula harapan-harapan mereka, tentang bagaimana kehidupan si anak kelak. Dan rajutan mimpi ditenun untuk sang buah hati.

Mereka baru belajar menjadi orang tua, jadi wajar mereka terlalu banyak memberi arahan dan tekanan karena ingin si anak ini sempurna. (Butuh satu orang anak lagi atau belasan tahun parenting untuk menyadari bahwa tidak ada anak yang sempurna, hehe). Ketika anaknya masuk sekolah, mereka begitu bersemangat mencari informasi untuk dapat memasukkan kita ke SD terbaik, SMP terbaik, SMA terbaik, dan Universitas terbaik. Kalau bisa masukin juga ke kursus-kursus terbaik yang prestisius. Saat berulang tahun, sebisa mungkin mereka berikan hadiah yang terbaik semampu mereka, dan besertanya dirajut pula harapan-harapan baru.

Begitulah. Jadi pantaslah jika sang anak merasa beban harapan orang tua ditanggung begitu berat. Terutama oleh anak pertama, karena dalam hidupnya lah hal-hal yang pertama terjadi dalam kehidupan orang-tuanya muncul.

Jadi, kembali ke pernikahan impian, mungkin itu juga usaha keras orang tua untuk mewujudkan pernikahan anak impian mereka. Mereka punya mimpi tentang bagaimana mereka akan melangsungkan pernikahan anak mereka, yang dalam kasus saya, privilege ini diberikan kepada anak pertama.


Picture
Setelah saya pikir-pikir, tidak buruk-buruk amat. Ini kan impian mereka, apa salahnya sih membantu orang tua mewujudkan mimpi mereka? I just have to play along with it. I'm sure it will be great!

Lalu bagaimana dengan pernikahan impian saya? Ya, impian itu saya tunda dulu lah, dan diwujudkan pada pernikahan anak saya nanti. Hahahhaha!

*Maaf ya Nak, I have a dream too...*

A Search For Passion

/ /
"What is your number one Passion?"

Pertanyaan di twitter itulah yang menggelitik saya untuk kembali berpikir tentang apa passion saya. Secara general, saya tahu passion saya, tapi My Number One Passion? Nope.

Saya tergagap untuk beberapa lama, dan berpikir 'Apa yang paling baik saya lakukan?', dan akhirnya mengambil kesimpulan "Creative Problem Solving".  Tapi saya tidak puas. Benarkah itu My Number One Passion? My Best? Ko rasanya ga ada chemistry yah?

Saya sudah berkelana kurang lebih dua tahun di dunia Passion ini, sambil lalu saja dan terasa setengah hati. karena saat itu saya yakin bahwa inilah saat yang tepat untuk mencari Passion, dimulailah perjalanan yang lebih serius.  Hingga akhirnya saya temukan: My Number One Passion. Seperti yang bisa kamu baca di sebelah kanan...

Searching for passion can be an arduous task to do, especially if you're in early adulthood - seperti saya. Secara budaya, tak banyak di antara kita yang beruntung mengetahui pentingnya passion di masa remaja. Atau lebih common lagi, kita rasa kita tahu dimana passion kita, tapi terpaksa melepaskannya demi 'karir' yang lebih menjanjikan. (Untuk source yang luar biasa soal pertentangan karir vs passion, coba liat buku Rene Suhardono disini)

Anyway, tujuan post ini adalah sharing tentang apa yang sudah saya lakukan untuk -Akhirnya, Thank God!- bisa menemukan Passion saya. If you are, like me, a generalist, you might find these tips valuable.
Picture
Menggali Nilai Hidup


Nilai Hidup (kedepannya ditulis Value)  adalah apa yang kita anggap penting bagi diri, yaitu hal-hal yang  paling penting dalam hidup kita. Anthony Robbins mengatakan bahwa ada 2 macam life-values: Ends dan Means. End Value inilah yang perlu kita raih, bukan Means Value. Apa perbedaannya? End Value artinya keadaan emosional yang membuat kita merasa tercukupi, penuh, kaya dan terpuaskan. Sedangkan Means Value adalah cara untuk meraih end value tersebut.

Contohnya, jika saya ditanya "Apa yang paling penting menurut kamu?", saya bisa menjawab "Tuhan, Keluarga, Karir". Semuanya adalah Means Value, karena tidak merujuk pada keadaan emosional yang saya kenali. Untuk mengetahui End Value, tanyakan lagi pada saya, "Apa yang kamu dapatkan / rasakan dari hubungan dengan Tuhan?", dan ketika saya menjawab, "Kedamaian hati", maka ditemukanlah salah satu end value, hal terpenting dalam hidup saya.

Hal termudah untuk menemukan value adalah dengan membuat Skala Prioritas. Seperti yang dicontohkan di paragraf sebelumnya, skala prioritas biasanya mencerminkan Means Value. Yang harus kamu lakukan hanyalah bertanya lebih dalam untuk menemukan Ends Value-nya.

Seseorang bisa saja mempunyai 20 atau bahkan 100 value. Akan tetapi, untuk membawa kita memahami passion serta meraih Hidup yang Luar Biasa, cukup bagi kita untuk mengetahui dan mengingat 5 value tertinggi dalam hidup kita.

Contoh 10 value yang sering disebut orang: love, success, freedom, intimacy, security, adventure, power, passion, comfort, and health.  Kamu tentu punya list value-mu sendiri. Tapi bagaimana jika kamu tidak bisa menguranginya menjadi lima? Karena semua itu penting?

Happens to me too.

Cara yang saya lakukan adalah dengan mengelompokkannya menjadi tema. Berikut hasilnya:
  1. Spirituality
    (Gratitude, Patience, Honesty, and Humility)
  2. Love
    (Compassion, Contribution)
  3. Health
  4. Self Growth
    (Higher education, self leadership)
  5. Passion (and career)
Disini saya mengaitkan kata spirituality dengan rasa syukur, kesabaran, kejujuran, dan rendah hati. Dan spirituality adalah Value tertinggi saya, artinya dalam mengambil keputusan untuk bertindak, saya akan dan harus bergerak sesuai dengan tema spiritualitas saya ini. Demikian juga dengan kata cinta, pengembangan diri dan passion.


Setelah kamu memahami Value, sebetulnya kamu sudah memiliki gambaran mengenai apa Passion kamu. Tapi, mari kita lanjutkan pada langkah berikutnya.

Picture
Berpikir tentang Visi


Visi adalah gambaran besar, sebuah helicopter view, tentang apa yang kamu rasakan tentang dirimu sendiri puluhan tahun dari sekarang. Visi bersifat kualitatif, artinya, bukan apa atau berapa yang kamu punya saat itu, tapi lebih ke bagaimana yang kamu rasakan saat itu.

Jadi, pertanyaannya adalah: Siapakah saya? Bagaimana saya bersikap? Bagaimana keluarga/teman saya memandang saya? Apa yang saya rasakan mengenai diri saya sendiri?
Tulislah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dengan tetap mengingat value yang telah kita temukan.

Visi harus terasa kuat, nyata, dan menggairahkan! Visi harus menggerakkan emosi positif saat kamu membacanya. Jadi, ulang dan sempurnakan lagi, hingga akhirnya kamu merasa puas dan totally motivated.

Visi saya seperti ini:
" Dinar Indra Surtikarani is a wise , loving, poweful, rich yet humble woman. She is full of energy powered by her constant challenge of self growth. She’s a big time giver, and always have money, energy and time to help her colleagues, family and society.  She’s one of society Great Teacher by sharing her wisdom and knowledge." and so on.

Terakhir mengenai Value dan Visi adalah, sangat penting untuk mencacat Value dan Visi kita. Percuma menemukan Value dan Visi jika kamu tidak bisa memeriksanya saban hari sebagai pengingat dan penggerak.  Jadi, saya menyarankan apa yang saya lakukan, yaitu membuat The Book Of Life. But more on that later. :)

Picture
Find Heroes


Langkah selanjutnya dari pencarian Passion kita adalah: Temukan Hero yang senada dengan satu atau beberapa aspek dalam Visi dan Value kita.

Hero bisa jadi siapa saja, tidak perlu selebritis apalagi tokoh Superhero, dan jangan hanya satu. Siapapun mereka, Hero adalah ikon pengingat terhadap Visi (bahkan Misi) kamu sendiri, alias motivator bahwa Visi yang kamu ingin raih itu benar-benar bisa diraih! Yang perlu diingat, fokuslah pada aspek positif, jangan terhambat oleh keburukan-keburukannya. Semua Hero itu manusia. :)

Hero saya sejauh ini ada 3:
  1. Angelina Jolie, karena luar biasa dermawan dan mempraktekkan work-life relationship.  (Sesuai dengan Visi saya yang menjadi dermawan dan anggun, hehe)
  2. My Mother, karena luar biasa supportive, open minded, dan penuh cinta (Sesuai dengan Visi saya sebagai pasangan dan ibu kelak)
  3. Robin Sharma, karena kemampuannya menyentuh banyak orang dengan kisah-kisah creative-nya (Sesuai Visi saya sebagai The Great Teacher, :D).

Dari tiga orang ini saja, My Heroes, saya sudah punya 'code of conduct' untuk menjadi berhasil pada bidang-bidang yang menjadi kekuatan mereka. Amati, Tiru, Modifikasi. Itulah fungsi Hero yang lain.

Picture The One


Oke, Value, Visi dan Hero sudah ditangan. Lalu, langkah apa lagi yang harus dilakukan?

Satu-satunya hal yang perlu dilakukan sekarang adalah Bergerak! Ya, bergeraklah, hidup sesuai dengan Value dan Visi-mu. Jika mau, buatlah Mission Statement untuk tiap bidang hidup. Tapi kunci utama-nya adalah Act upon your Vision and Values.

Setelah saya memahami Value dan Visi saya, disitulah saya menggenggam masa depan saya dan jelas itu adalah sesuatu yang cemerlang. Didorong oleh Top 5 Value, antusiasme saya dalam bekerja bangkit, tidak mudah putus asa dan selalu terpanggil untuk lebih sabar dalam menemukan hal-hal unik di tempat kerja (Sprituality, Self Growth, Passion). Bisa dibilang, hidup saya berubah 180 derajat setelah saya memegang Value dan Visi saya.

Saya menjadi lebih ingin untuk berbagi pengalaman luar biasa ini dengan lebih banyak orang. Jika awalnya hanya status-status Facebook, saya mulai ingin terkoneksi dengan Twitter, dan bahkan Blog untuk dapat lebih bermanfaat untuk banyak orang (Love, Spirituality).

Lalu saya bakar jembatan, saya kejar goal saya untuk lanjut S2 (salah satu cara untuk meraih Visi saya) dengan menyodorkan aplikasi ke kantor. Dan saya juga bakar jembatan dengan membuat akun weebly dan membuat blog agar saya bisa menyebarkan pengalaman ini (sesuai juga dengan visi dan value saya).

Ketika saya mulai menulis, disitulah saya merasa amat sangat gembira. Dan saya lebih bergembira ketika saya mengingat definisi Rene Suhardono mengenai Passion:
"Passion is things that you really really love doing. Your passion is your strength. And your strength is NOT about what you're good at. It is about what you enjoy the most."

Selalu Bergerak, lakukan hal-hal yang belum pernah kamu lakukan, siapa tahu disitulah Passion-mu berada. Dan jangan lupakan Visi dan Value.

See you, hopefully next time you've found The One!
^0^

Follow Me

blogger widget

Temanku

Popular Posts

Blog Hits

 
Copyright © 2010 Dinar Karani, All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger